Surat untuk Anak Lelakiku

Anakku,

Tidak salah sebenarnya untuk kamu berbaik dengan perempuan. Cuma kamu, kamu harus tahu batas, dan juga adabnya. Bukan kerana ibu mau katakan yang perempuan istimewa derajatnya berbanding laki-laki atau atas dasar feminisme apa-apa, tidak. Ibu mahu kamu berbuat baik dan perlakukan yang baik terhadap perempuan kerana mereka adalah manusia yang juga punya perasaan, sama seperti kamu. Mahukah kamu diperlakukan tidak baik? Sudah tentu tidak mau, bukan? Maka, mulailah dari diri kamu, yakni perlakukan yang baik terhadap orang sekelilingmu.

Anakku,

Sebelum kamu menginjak dewasa dan lebih dewasa, eloklah ibu ingatkan kepadamu bahwa jangan pernah sesekali kamu beri harapan kepada perempuan bila mana kamu sebenarnya belum bersedia. Bersedia yang mau ibu maksudkan di sini, bukan hanya dari segi perasaan tetapi dari segenap segi; wang, waktu, tenaga dan ya, ucapanmu.

Kerana yang kamu akan hadapi itu, juga adalah diri kamu yang sebenarnya. Ibu selalu ingatkan diri ibu bahwa yang orang yang kamu cintai itu juga adalah sebenarnya dirimu. Kamu adalah dia, dia adalah kamu. Sebagaimana kamu mau dirimu diperlakukan, sebegitu jugalah yang perlu kamu perlakukan terhadap cinta hidupmu.

Anakku,

Jangan pernah sesekali guna kalimat ini,

Cinta bukanlah untuk selalu dimiliki

Tidak! Jangan pernah sekali pun. Kamu belum berusaha, belum letak seluruh tenagamu dan kemudian, kamu katakan “Cinta bukanlah untuk selalu dimiliki”? Sungguh tidak pantas buat kamu katakan sebegitu. Jangan pernah sekali pun kamu nyatakan itu kepada seorang perempuan. Jangan!

Anakku,

Berpacaran bukanlah suatu hal yang ibu tentang sepenuhnya. Andai kamu bijak imbangi baik buruknya, silahkan. Namun, apa yang ibu lihat sekarang, banyak jeleknya dari yang baiknya. Maka, ingatlah anakku, bila mana kamu mula berpacaran, hati orang yang kamu cintai itu kamu pegang dan kamu letakkan di tanganmu. Kamu tau apa yang sulitnya bila hati dipegang tangan manusia yakni tanganmu itu? Kamu akan sakitinya, kamu akan remuk hatinya.

Tidak selalu, mungkin. Tak semua, mungkin.

Namun, sekali kamu terkena, sakitnya akan kamu rasai sampai bila-bila. Ibu tidak mau kamu tertanggungkan rasa peritnya itu. Baik tidak, daripada terasa dampak.

Anakku,

Ibu lebih suka bila saatnya kamu jatuh cinta, kamu tau dia itulah cinta hidupmu, beritahulah ibu. Ibu dan ayahmu akan senang sekali untuk permudahkan apa yang seharusnya dipermudahkan. Tak perlu lama-lama, pelintang pelintung menyulitkan dia untuk menunggu lama jawaban dan aksimu, kamu harus berani. Cinta itu adalah berani.

Jangan pernah hancurkan hati seorang perempuan. Kerana sekali kamu hancur, dia pasti tumbuh menjadi lebih tangguh. Namun, itu bukan alasan buat kamu untuk melukai hati perempuan.

“Biarlah dia tau arti sakit, ibu. Dan perit hidup di dunia ini. Inilah realitas hidup yang harus dia hadapi.”

Ya, ibu tau. Tapi kenapa perlu kamu yang harus buat dia rasa begitu? Ya, dia pasti tumbuh lebih tangguh. Tapi tumbuhnya dia itu adalah atas rasa sakitnya kamu buat sebegitu. Ibu tidak mau anak ibu diperlakukan sebegitu.

Ibu tau bagaimana rasa sakitnya tumbuh menjadi lebih tangguh kerana pernah tersakiti akibat dia yang ibu percaya tidak akan pernah sakiti ibu. Ibu pernah alami, kerana itu, kamu jangan jadi seperti laki-laki yang sebegitu.

Anakku,

Ibu mau kamu menjadi seorang laki-laki yang seperti Ali, hatinya memang dari mula sampai dengan akhir, adalah untuk Fatimah, sendiri.

Demikianlah surat ibu untukmu wahai anak lelakiku. Ibu sayangkan kamu.

Ikhlas,

IBU.

 

 

Posts created 4

One thought on “Surat untuk Anak Lelakiku

Leave a Reply

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top
%d bloggers like this: