Sayang

Sayang.

Yang tak pernah sanggup untukku ungkapkan, walaupun setelah “kita” berakhir.

Dan sekarang aku makin sedar, sesungguhnya tidak pernah ada “kita”. Yang ada hanyalah aku, aku dan rasaku. Rasa yang mungkin sebenarnya dicipta oleh diriku sendiri dan diberikan pula kepada diriku sendiri. Kau tak pernah bersalah menurutku, yang bersalah hanyalah aku. Aku dan kebodohanku. Yang ku sesali bukanlah dirimu tetapi diriku. Sungguh berat pengajaran yang ku dapatkan, yang merupakan kesan dari sesuatu yang berat pula. Tak henti-henti aku bersyukur kepada Tuhanku untuk pengajaran yang satu ini. Pedih, memang. Tetapi seandainya tidak pedih, bagaimana akan aku belajar?

Pengajaran yang membuatku lebih berhati-hati dalam berlaku, untuk tidak lagi sewenangnya berbuat. Bahkan untuk mendekati saja aku telah serik. Tapi hati, dapatkah ia dibohongi? Atau iakah yang sebenarnya membohongi?

Dan untukmu yang sedang terbang rendah bersedia untuk mendarat. Telahku saksikan kebaikan dan keindahan dalam dirimu tapi tak mungkin untukku berbuat seperti dulu lagi. Biarlah, jika memang benar wujudnya biarlah Allah yang menetapkan waktu yang terindah. Teringat sebuah doa yang dikongsikan seorang sahabat, “Semoga aku dipertemukan dengan dia, dengan cara yang paling terindah”. Entah bagaimanakah ia. Biarlah Allah yang menentukan. Yang penting hati ini perlu dijaga. Seandainya boleh, simpankan ia kemas-kemas. Kuncikan ia rapi-rapi. Biar ia tak lepas lari lagi.

Biar ia tak seenaknya mencintai, lagi.

__________________________

15 Mac 2019

Ruang Udara Medan-Kuala Lumpur

 

Posts created 3

Leave a Reply

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top