ulfahazran

tragedi oktober.

October 24, 2020 in Poetry/Puisi

in this line we’ve been at each other’s hand. going through this zombie apocalypse.
and we’re the zombies. 
i layan Aimer. you layan Brockhampton.
layan diri. we self-service. 
we jazz.
i tengok boys’ love. you tengok i je.
 we still jazz. 
i write tragedies. you write lyrics. 
tahu-tahu kita dah jazz sampai bulan. rupa-rupanya bulan bentuk hati. 
so we end our lives.
and so we die.

ditengah mereka

October 13, 2020 in Short Story/Cerpen

// aimer – anata ni deawanakereba

Saat ini, dalam diriku menebal rasa ingin memberontak teriak pada sekujur tubuh kaku di depanku. Aku yang teringat pada masa-masa belum lagi. Belum bertemu. Belum berjabat. Belum terlepas. Seperti layang-layang yang ingin lari dari tuannya, aku ingin melepaskan diri dari tali tambat kehidupan. Dan seperti gelap yang mematikan deriaku, aku ingin menghidupkan kau. 

Because right now, they are here among us.

Setangkai white hyacinth aku letakkan di atas meja sisi katil seperti selalu. Tirai langsir aku buka untuk membenarkan cahaya masuk. Namun cahaya matahari terik yang menyimbah wajah Arman masih tidak mampu membangunkannya. Aku duduk di samping katil Arman dan mengeluarkan Yasin kecil yang selalu aku bawa. Membacakan untuknya kalimat-kalimat Tuhan. Berdoa agar tubuh itu boleh kembali menggeliat meluruskan sendinya sendiri. 

Selesai membaca Yasin, aku melihat dada Arman yang berombak tenang. Caranya menyambut kedatanganku. Aku menyamai detak pernafasannya. Mencuba untuk berada di frekuensi yang sama. Dan kalau boleh di alam yang sama. Selama dua tahun ini, aku tak pernah mampu mengajaknya berbual. Sebab aku tahu aku akan kesal dan marah dengan kebisuannya. Sebelum pergi, aku menuliskan sepucuk surat tak beralamat di atas beberapa helai tisu dan menyelitkannya di bawah bantal Arman.

Hey there sleeping beauty,

I am no prince but I have come to break the curse.

Give me a little taste of death. 

And I shall graduate from this feeling.

So I can go back to be moderately in love with my world without you.

Oh seasoned heart, 

Forsaken me when I’m selfless. 

As my presence is getting colder.

To which it has frozen my steps.

I vow —

2 Indonesian. 1/2 cigarette

July 11, 2020 in Short Story/Cerpen

disclaimer: kalau tidak mengerti, ambil nilainya saja. kalau ada.

 


 

10 September.

Tanggal hari ini adalah tanggal yang ditulis Anggun di belakang buku catatan Kiran bersama waktu dan alamat sesuatu tempat. Sebenarnya Kiran tidak mahu ambil peduli tentang itu. Tapi semakin dia berusaha menepis ingatannya tentang gadis itu, seraut wajah redup yang dipandangnya saat berpisah semakin terbayang dan melekat. Tidak seperti dakwat hitam yang meresap dan semakin meluntur di atas helaian bukunya yang basah.

Setelah hujan berhenti malam itu, Anggun tidak lagi berkeras untuk lari.

“Awak ada pen dengan kertas?”

“Kalau ada masa datanglah.”

“Pinjam phone boleh?”

“Pergi dulu. Terima kasih.”

Dan setelah itu juga, Anggun pulang tanpa menuntut jawapan apa-apa daripada Kiran.

Ditengah kepulan asap rokok yang dihembus, Kiran masih mampu menghidu bau itu. Bau hujan. Ditambah bau-bau lain yang datang dari tempat sampah, longkang, dan dari masakan di dapur. Selang waktu kerja, dia akan keluar ke belakang restaurant untuk menghisap rokok. Hanya sebatang atau setengah.

Nyaa! Kiran menoleh ke arah bunyi itu dan melihat seekor kucing hitam liar tersekat di antara celahan plastik sampah. Rokok yang masih tinggal separuh dicampak ke atas jalan dan dipijak. Dia bangun daripada kerusi, lalu plastik sampah yang bertindih diangkat untuk melepaskan kucing itu. Nyaa! Nyaa! Sekali lagi kucing itu berbunyi sambil menggosok-gosok kaki Kiran. Meminta makan mungkin.

“Ran! Ngapain?!” Vega menyergah di muka pintu belakang.

Kucing hitam tadi terkejut mendengar sergahan Vega dan terus lari keluar dari lorong itu. “Ngagetin aja, Ga. Lari tuh kucingnya.” Vega ialah rakannya yang sama-sama bekerja sebagai tukang masak di restaurant itu.

“Kamu gak mahu makan? Udah jam istirahat nih.” Vega mengingatkan.

Kiran melihat jam di tangan dan kembali duduk. “Oh iya. Tapi aku lagi gak selera makan.”

“Ayo, makanlah. Siang kerja, malam juga kerja. Gi mana mau ada tenaga.” pujuk Vega. Dia tahu sekali sikap Kiran yang suka melangkau waktu makan. Tapi sejak kebelakangan ini, semakin sering dia lihat Kiran seperti itu. Apa kerana …

Vega menyilangkan tangan sambil menyandar di pintu. “Ini pasti gara-gara gadis yang waktu itu kan? Apa kamu masih kepikiran sama dia?”

Kiran hanya menarik senyum segaris.

Vega menghela nafas perlahan. “Kamu tahu apa yang buat gak tenang?

“Apa?”

Cerita yang gak selesai. Yang berhenti setengah jalan kerana buntu soal kewajaran.

Kiran menggeleng perlahan. “Masa pertemuan satu malam mahu dikarang cerita?”

“Kenapa gak? Tapi kamu ragu kan? Itu maksudku.”

Kiran tertawa kecil. “Aku sering kalah nih kalau udah bicara sama ibu penulis.” Dia tahu kalau Vega punya cita-cita untuk jadi seorang penulis buku. Tulisan-tulisan gadis itu selalu dikasi baca ke dia. Dan berkali-kali itu juga, dia menyuruh karyanya dihantar ke penerbitan. Tapi Vega selalu menang dengan alasan-alasannya.

“Masih jauh, Ran. Sekarang kalau aku lagi cuba untuk nulis tuh, kayak masuk ke rumah kosong. Gak ada yang nyambut.  Tapi kalau kamu mau jadi pemeran utamanya, mungkin akan aku pertimbangkan.” Vega mengangkat kening sambil tersenyum.

“Mulai lagi kan…  Kalau kamu rasa kayak masuk ke rumah kosong, aku ini cuma laman yang penuh rumput tinggi. Gak ada yang urus. Tapi masih sudi ditemani satu ekor rama-rama cantik.”

Vega berkerut. “Siapa?”

“Kamu.”

Masing-masing tersenyum. Tanpa perlu dijelaskan kenapa, mereka sama-sama tahu arti kata-kata itu. Perkenalan yang sudah hampir 15 tahun, menjadikan hubungan mereka seperti kakak adik. Di antara mereka, yang namanya perasaan itu jadi tidak berhijab. “Terus soal gadis kemarin, kamu mau biarin aja dia jadi tamu di fikiranmu?” Vega memasukkan kedua tangannya ke dalam poket apron.

Kiran mengeluarkan sekeping kertas yang berlipat dari dalam poket seluar dan menghulurkannya kepada Vega. Helaian yang dia koyak daripada bukunya. Yang terisi dengan tulisan Anggun malam itu.

Vega mengambil kertas itu daripada Kiran dan membuka lipatannya. Yang ditulis Anggun dibaca serius. “10 September itu hari ini, kan?”

Angguk.

“Terus alamatnya, ini tempat apa?” tanya Vega lebih lanjut.

“Dewan keramaian. Sepertinya bakal ada acara di sana.” beritahu Kiran. Dia pernah cari lokasi alamat itu di internet.

Vega mengembalikan kertas itu kepada Kiran. “Aku gak bakal paksa kamu pergi. Tapi kayaknya kedatanganmu bakal dinanti. Siapa tahu ada yang mau disampaikan. Mungkin nanti kamu juga bisa tahu alasan kenapa hatimu gak tenang.”

Kiran mendongak ke langit. Jarinya disuluh ke atas mengikut gerak kepulan-kepulan putih yang semakin gelap. Membuatkannya terlihat seolah-olah dia punya kuasa untuk menggerakkan awan-awan. “Mungkin kamu benar. Tapi Ga, itu sama saja seperti kamu menyuruh aku menceroboh kerajaan langit.”

Vega turut sama-sama mengarahkan pandangan ke langit mendung. Mengerti maksud Kiran. “Bukan menceroboh. Tapi sekadar memenuhi undangan. Aku yakin rumput tinggi yang kamu bilang itu bisa menyentuh langit.”

Burung-burung yang mereka lihat terbang jadi ramai dan berkelompok. Kelihatan sedang berkejaran ingin pulang ke sarang. Di hati dua pemerhati itu penuh pengharapan. Berharap agar kepulangan kelompok burung itu disambut sayap-sayap lebar setibanya di tempat yang disebut rumah.

 

* * * * * * * *

Satu tebakannya salah; hujan tidak turun. Satu lagi tebakannya ternyata benar; ada acara yang sedang berlangsung. Seharusnya acara itu adalah acara berbayar. Tetapi kerana sepertinya ada rusuh di dalam, semua orang jadi terlepas masuk ke ruang acara. Walaupun tahu salah, Kiran ikut menyelinap masuk dan dia disapa selautan manusia yang sedang menolak antara satu sama lain.

Dia melangkah tanpa tujuan. Mencelah di tengah rusuhan yang dia tidak tahu tentang apa. Dia harus cari Anggun. Semakin ke depan, semakin jelas kedengaran jeritan mereka. Mereka sedang melaungkan nama itu. Nampaknya bukan dia sahaja yang sedang mencari gadis itu.

“Anggun! Anggun! Anggun!”

Kiran semakin keliru apabila melihat wajah yang dia cari ada di dalam keramaian dan sedang ikut serta menjerit nama sendiri. Walaupun mask dan topi yang dipakai gadis itu hampir menutupi separuh wajahnya, dia tidak akan lupa tentang heels merah yang dipakai Anggun. Perlahan, langkahnya diatur untuk menjemput tamunya itu.

a walk in the park

July 8, 2020 in Short Story/Cerpen

fictional
/ˈfɪkʃənl/
adjective
  1. relating to or occurring in fiction; invented for the purposes of fiction.
In this line, we’ve been at each other’s hand. Mapped out our hearts bare from the extra miles we’d go just to get a burger. And we’ll have the usual – lettuce free for me and extra pepper for you. We would leave behind some trails of dripping sauce in our track. From a mouthful of laughter we couldn’t contain when one of us cracked a joke about Miss Sarah’s singing during school annual musical theater. Or when we remembered those times, the-Sir Farish’s-ever-failed-attempted-courting towards Kak Syifa’, the school’s clerk. Now blessed with a set of twins. Thinking about the what ifs. For instance, what would happen if we didn’t have any mutual friends such as ‘the hottest couple’ in school? We owe Izham and Wina big time for bringing us together at their one year anniversary party. But what were the odds really? For having two same numbers  accidentally printed for the lucky draw. And for them to randomly picked out our numbers. It was an accidental winning for both of us with one prize to share or keep. Being a born generous and gentleman, you had  let me take the Ipod for myself without hesitation. And the rest is history. What a time for such golden to be flashed out in front of our swollen eyes between screeching tyres and now dripping fuel. Our world are upside down in an almost flame. Neither of us can draw a smile with a mouthful of blood. I haven’t prepared any mental note for  a death event. But thanks God its fiction. Maybe this is just a lucid dream. Because i’m seeing a girl writing about us. And in this line we’ve been in each other’s hand. 

 

 

 

 

 

 

 

 

yang sering kau dengar

May 28, 2020 in Poetry/Puisi

+ catatan sebatas/seringkas hup seng dan teh hangat

Perasaan itu memang sesuatu yang susah digambar. Palet warnanya juga variasi. Kenapa cuma guna satu kalau kamu bisa tumpahkan sekali semuanya biar menyatu.  Bahagiamu, marahmu, sedihmu, nyamanmu, sayangmu, juga bencimu. Kadang… perasaan itu tidak meminta untuk difahami. Cukup sekadar memberi makan ikan emas yang sedang berenang dan meloncat di dalam kolam perasaanmu itu. Demi sebuah kelangsungan hidup. Kerana manusia itu makhluk yang lemah. Selalu berpaut teguh dengan kata “kalau jatuh 100 kali, bangkit lagi 101 kali.” Yang namanya jatuh pasti luka berdarah. Itu biasa. Nanti juga sembuh. Tinggal ditiup dan diubati dengan kata-kata penuh sayang daripada ibu atau ayah atau dari sosok cinta di hidupmu. Yang hanya dengan memiliki mereka disampingmu, sesuatu yang mustahil akan tampak mudah. Sekarang menjadi manusia saja jelas tidak mudah. Ia sangat rumit sekaligus merumitkan. Ada yang setia menunggu cinta bertahun-tahun, padahal cinta itu sudah lama berdiri di depan tangga rumahnya dalam paket besar. Juga menunggu untuk dibuka. Kadang gak kebayang sekuat apa egois di dalam tubuh sekecil itu. Sering menyulitkan diri sendiri dengan berenang ke dasar bukannya ke permukaan. Melemaskan emosi yang sememangnya dari awal sudah kekurangan oksigen.

Padahalkan hukum tekanan itu wujud untuk membantu manusia.

Mungkin kitanya saja yang belum menemui jawapannya. Persoalannya, apakah kita bersedia bertindak dengan itu? Saranku gunakan saja  semua talian hayat yang kamu punya. Isi dunia ini terlalu banyak untuk disia-siakan. Saat yang kamu paling tidak menyangka, keluhanmu akan didengari. Dan akan ada yang menghulurkan tangan. Menarikmu untuk terbang bersama bergandengan. Sampai akhirnya kamu bisa terbang sendiri.

Seperti membikin animasi flipbook. Perlahan tapi pasti.

 

 

 

Kolin’s muse

April 12, 2020 in Short Story/Cerpen

That is what friends are for. Right, Helmi? Kau pulak rasa macam mana?” soalan diajukan kepada rakan penyampainya di sebelah. Ilham melihat Najiha dah mengangkat dua jari kepada mereka disebalik dinding kaca. 2 minutes left.

Helmi mengangguk tanda faham sebelum menjawab, “Bila dengar masalah dorang ni, aku just nak cakap yang kita semua ni degil. One way or another. Kawan ni kita pilih. Bukan dia pilih kita. That is one perspective. It’s either we accept each other or let them down easy. So kalau ada masalah timbul and rasa ada kurang sikit kat mana-mana tu, jangan terlalu menyalahkan orang lain. Bila kau salahkan orang lain, akan rasa susah nak memaafkan.” Leher mikrofon didekatkan. “But if we try to lower down our ego and reflect upon ourselves instead. Mungkin akan lebih mudah untuk memaafkan diri sendiri. Because in the end we are our own best friend.”  30 seconds. Closing call.

Anddd that’s all from your boys, Ilham and Helmi. Thank you for tuning in.” Ilham memberikan kata-kata akhirnya dan memandang Helmi. Mereka sama-sama mengangguk.

We’ll be back next week. So don’t forget to stay with us only at Jedi.fm for more interesting news and topics. For today’s closing song we will play a song requested by Ellie . This is it, Rumah ke Rumah – Hindia.” suara Helmi dah diambil alih oleh Baskara Putra. Sejurus sahaja lampu merah ON AIR mati, mereka mengangkat tangan kanan dan memberikan high-five kepada satu sama lain. “Nice advice bro.” puji Ilham.

“Biasa je, Ham.” balas Helmi merendah diri.

“Betullah orang kata kau ni Mahatma Gandhi moden.” sakat Ilham lagi.

Helmi hanya tersenyum sambil mengemas kembali kertas-kertas nota di atas meja.

Helmi ialah antara orang yang paling matang dikalangan rakan-rakan mereka. Bijak dan dewasa. Ex Head Boy lah katakan. Ilham mulai rapat dengan Helmi semasa mereka sama-sama menyertai kelab radio di sekolah dulu. Helmi terinspirasi untuk join kelab tersebut setelah menonton Barry Levinson punya movie iaitu Good Morning, Vietnam. Dia sangat menggemari watak Adrian Cronauer yang di popularkan oleh Robin Williams itu. Ilham pula tertarik sama kerana dia mahu melampiaskan excessive humour yang terdapat dalam dirinya.

Good job guys!” ucap Najiha yang melangkah masuk ke dalam studio sambil mengangkat dua cawan kopi ke udara.

Thanks, Jia.” balas Ilham dan Helmi serentak. Terus diambil cawan daripada gadis itu yang sememangnya untuk mereka.

So next week last?” tanya Najiha dengan muka sedih dibuat-buat. Dia mengharapkan dua orang pemuda itu dapat terus membantunya kerana dia masih berusaha mencari pengganti DJ sebelumnya yang berhenti mendadak. Dia tahu mereka berdua boleh diharap sebab dia juga pernah menyertai kelab yang sama sewaktu di sekolah. Dan siapa je yang tak kenal the famous duo.

Sadly, yes. Sorry again Jia.” balas Ilham. Kalau bukan sebab dia dah nak masuk kerja dan Nadeera, pasti dia tak keberatan untuk menolong rakannya itu.

It’s okay. Aku faham.”

“Tapi aku boleh je tolong kau tanya-tanyakan sesiapa. Nanti apa-apa aku inform kau.” tawar Helmi.

Thanks, Head Boy.” ucap Najiha ikhlas. “Aku nak kena gerak dulu ni, ada meeting. Oh, and sebelum aku lupa. Schedule untuk next week nanti mintak dekat Keith tau.”

Sure. See you Jia. Sedap kopi kau buat.” puji Ilham. Najiha hanya ketawa dan melambai sebelum melangkah keluar.

Setelah kelibat Najiha dah tak kelihatan, Ilham memandang Helmi yang sedang menghabiskan kopi di tangan. “Nad discharged esok.”

Mendengarkan hal itu, sisa kopi yang ditelan Helmi terasa lebih pahit. “How is she?” Dia dah meletakkan kembali cawan di atas meja dan menyandar pada kerusinya.

Better. But i know her mind is still… not there yet.” Ilham tersenyum kelat. “At least she’s less of a zombie now.

“Dah tak macam mayat hidup?”

Geleng.

More feelings now?

Angguk.

Helmi turut mengangguk kecil. Better. Kepalanya terus teringatkan gadis itu. Dia memejamkan mata dan mengambil nafas panjang. Mengundang ingatan yang datang bertandang. 9 tahun yang lalu. Dia melihat Nadeera yang sedang sorok dibelakang sepupunya, Ilham. Waktu itu cuti pertengahan tahun Form 4. Dia, Dan dan Ed pergi ke rumah Ilham untuk menghabiskan cuti mereka di sana. Pada waktu yang sama, Nadeera dihantar oleh ibu bapanya yang mempunyai urusan di luar kota.

“Nad come here. Meet my friends.” Ilham mengajak Nadeera yang sedang menyorok dibelakangnya.

Gadis itu merenung tajam mereka satu persatu. “They are your friends?” tanya Nadeera perlahan.

Ilham tersenyum dan mengangguk. “This is Abang Helmi.”

“Hai Nadeera. Cute nya rambut macam pumpkin.” Kepala Nadeera ditepuk perlahan.

“Ni pulak Abang Dan.”

“Haii. Ye do rambut blonde macam ni. Sesuai nama Naddy.” usul Dan sambil ketawa. Danial Abu Bakar atau lebih senang dipanggil Dan merupakan seorang geek tegar. Sejak budak-budak lagi dia suka kumpul komik. Marvel, DC, Apo, Ujang, Otai dan takkan habis kalau nak disebut satu persatu. Sampaikan pernah satu hari tu dia orang terjumpa komik cina dalam koleksi dia. Tanya lah dia tentang movie daripada Marvel atau DC punya komik dan production house, semua dia tahu. Senang cakap, those things revolve around him like nothing else matters. Danial juga pernah menyertai kelab drama sewaktu di sekolah dulu dan semasa Form 4, dia telah dinobatkan sebagai Best Actor dalam pertandingan drama wakil negeri.

“Yang pakai cap ni, Abang Ed.”

Nice to meet you, Nadeera. Keciknya awak darjah 6. Muka pun macam baby.” Ed dah mengenyitkan sebelah mata. Dalam kes Que Eidlan pulak, dia ialah seorang playboy yang terkenal sejak sekolah rendah lagi. Tak pernah single, katanyalah. Berbeza dengan Dan, sewaktu di sekolah menengah dulu dia pernah menubuhkan Love Consultation Service Club di asrama dengan moto ‘mate, ain’t lovin’ enough?’. Habis dia recruit semua playboy sekolah yang lain sebagai ahli. Service mereka itu ternyata sangat popular di kalangan warga aspura yang hopeless romantic. Tapi in the end kelab mereka kena abolished jugak sebab campur tangan warden.

Tiada respon. Nadeera hanya memberi pandangan kosong. “Abang Ilham, Nad lapar.” beritahu budak perempuan itu sambil menarik tangan Ilham menuju ke dapur.

Ketiga-tiga orang rakan yang ditinggalkan memandang sesama mereka dan mengangkat bahu. Tak pasti sama ada Nadeera sombong dengan strangers atau hanya malu. “Korang! Jom lah masuk dapur!” jerit Ilham. Langkah mereka diatur mengikuti Ilham dan Nadeera ke dapur.

Sorry, budak ni memang macam ni kalau lapar.” Ilham dah bergerak ke kitchen meninggalkan Nadeera di meja makan. “Korang nak minum tak?” Dia membuka peti ais dan mencapai tiga botol Hausboom perisa lemon.

“Boleh jugak.” sahut Helmi. Dia mengambil satu botol Hausboom yang diletakkan di atas meja. “Kau nak masak ke?”

“Aah. Kau nak tolong?” Ilham tahu dia ada bakat memasak.

“Takdehal.” Dia melihat Nadeera yang masih diam lalu melabuhkan duduk disebelah budak itu. “Pumpkin, nak makan apa? Do you have something in mind?” tanyanya lembut.

Nadeera mengetap bibirnya dan kelihatan berfikir. “Mama selalu buat nasi goreng tomyam.” beritahunya teragak-agak. Malu barangkali.

Helmi senyum dan terus bangkit daripada duduk. “My specialty. Nad tunggu kejap okay?” Namun belum sempat dia melangkah, hujung bajunya dipegang Nadeera. “Yes?

With some eggs.

Helmi membuat tanda ‘OK’ dengan jarinya. Airnya tadi diminum seteguk sambil mengeluarkan dua biji telur daripada peti ais. “Nad suka telur macam mana?” Dia bertanya kepada Ilham yang sedang membasuh beras di singki.

Ilham pusing. “Over easy.” Dia tersenyum melihat Nadeera yang semakin selesa ditemani Dan dan Ed di meja. “Pan dengan minyak ada dekat sana.”

Helmi mengangguk dan terus mengambil pan di tempat yang ditunjukkan oleh Ilham.

Selama seminggu mereka berada dirumah Ilham, Nadeera perlahan-lahan dapat ‘klik’ dengan mereka. Mana tidaknya, budak perempuan sekecil itu dapat mengalahkan mereka setiap kali bermain Street Fighter 5. Mereka semakin rapat apabila Nadeera diterima masuk ke Kolej Belida sama seperti mereka. Kehadirannya sangat disenangi sampailah sekarang. Gadis itu disayang seperti adik sendiri. Begitu juga sebaliknya, mereka dianggap seperti abang. Sehinggakan semua orang di kolej menggelar Nadeera sebagai Kolin’s muse. Kolin. Nama band mereka empat sekawan. Meletakkan Helmi sebagai vocalist/front man, Ilham on guitar, Ed dengan Fender kesayangannya, dan Dan the drummer. Nama untuk mengambil semangat Nadeera. Yang saling tak tumpah seperti character Kolin dalam Street Fighterloyal, arrogant, sharp tongued, emo tapi masih kelihatan lovable dengan figuranya yang kecil.

Helmi kembali mencelikkan matanya dan berpusing memandang Ilham. “Weh. Dan dengan Ed dah tahu?”

Ilham menggeleng disebalik cawan yang berada di mulut dan mengangkat kening bertanya.

“Kau call Dan. Aku call Ed.” arah Helmi.

Tanpa bertanya lebih lanjut, Ilham terus mengeluarkan telefon bimbitnya. Begitu juga dengan Helmi. Loudspeaker dipasang.

Hello! ada lagi tak?!” jerit Eidlan bingit setelah talian bersambung. Belum apa-apa Danial dah terlebih dahulu menyahut “Ruang?!!!”

“Dengan you, I nak bertenang!” Serentak.

Ketawa Ilham dan Helmi pecah.  Dua orang ni memanglah masuk air. “Korang. We have a mission.” Helmi menarik kembali perhatian mereka.

______________________________________________________________

 

“Hari ni abang Ilham bawak full squad.

Full squad?

Nadeera terus berpaling ke arah pintu wad yang dibuka dari luar. Dia menarik senyum apabila melihat tiga orang lelaki terpacak di depan pintu dengan belon dan makanan di tangan.

Surprise!” jerit mereka serentak.

“Korang lambatlah.” kata Ilham kepada rakan-rakannya

Baby!

“Naddy!”

Hey pumpkin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Eureka (!)

March 21, 2020 in Poetry/Puisi

tubuh yang berjisim itu wujudnya seperti tabung hutang

pada Tuhan kau titipkan bayaran cinta manusia

                  dan roh janji-janji makhluk itu bernyawa gersang

                                    melihat para hidup berlari mengejar awan hitam,

                                                                        yang                          memuntahi darah

kalam dari Tuhan kau baca merimbunkan rindu abadi

membaca hati yang luka

melambaikan bahagia

                                                      menyambut bahagia

kau mengajakku menunjukkan belang

                                                       mengeluarkan taring

menoreh dosa dari celahan gusi

kerana kata orang it takes two to tango

                  ketika kertas putih bertemu pena tajam

                                    berdakwat hitam pekat malam

                                                      yang                     dahaga – kau lumur basah

satu detik dakap masa

dua batu jauh ku dibuang

tulisan jiwang karat mu itu seperti besi tumpul

                                                                                               menikam dalam 6 harakat

sangkar jiwa yang diperbuat dari tulang rusukmu

memerangkapkan aku dan cinta kita yang berjisim

                                                                                                            dua kutub berbeza

tak dapatkah kita meminjamkan tangan seperti bulan dan matahari

                  seperti prosa songsang ini                ku pinjam kan padamu

                                         dan suara kita harmoni menjerit                                 eureka!

gerhana

August 9, 2019 in Dan lain-lain

1994: 3.04 am

Petir yang sabung menyabung menakutkan si bayi kecil di atas pangkuan empuk ibunya. Nita membiarkan jari-jari si kecil menggenggam kelingkingnya seperti tempat pergantungan hidup. Melindunginya daripada mendengar selain bunyian petir di atas kerana ada guruh lain yang lebih kejam di bawah.

Ferhad memulas tombol pintu perlahan. Dia tergesa-gesa melangkah masuk ke dalam bilik sebelum menutup pintu kemas. “Nita, maafkan Ferhad lambat. Anggun baik?”

“Anggun ketakutan. Ferhad lambat.” ucap Nita sedikit kesal.

Dua bungkus makanan diletakkan di atas meja. Ferhad senyum pada rajuk juwitanya, berharap dia diizin Tuhan untuk merasa bahagia atas itu. Dia mendekati Nita dari belakang dan menyikat rambut isterinya dengan jemari kasarnya. “Atan ada beri Ferhad tugas tadi.” beritahu Ferhad.

Tiba-tiba Anggun menangis dengan mata tertutup. Nita dapat merasakan lingkaran jari Anggun yang menyimpul mati seperti tali. “Adakah Ferhad tahu, kata-kata Ferhad tadi lebih menakutkan daripada laungan petir di atas atap rumbia ini.” Air mata Nita yang mengalir berkocak tenang.

Ferhad memangku wajah Nita dengan kedua telapak tangannya dan melihat satu lohong kedukaan di dalam mata redup itu. “Ferhad lakukan ini demi Nita dan Anggun.” Dia menatap pula wajah si kecil yang tersenyum padanya bagaikan pelangi selepas hujan. “Tolong sampaikan pada Anggun di usia bunga mekar, bahagia itu bentuknya seperti dia. Aku melihatnya kecil seperti bintang, namun senyumannya mampu memancar ke dalam hidupku sejauh dua kota.”

Nita mengangguk perlahan. “Sebelum Ferhad pergi, menarilah dengan Nita dan Anggun. Nita ingin dengarkan padanya detak jantung kita ketika bersama.”

Ferhad menadah air mata isterinya yang semakin lebat. “Tapi bukankah Nita suka jika kita dapat menari di khalayak umum.”

Nita memaksakan senyum di bibir. “Bukankah dinding-dinding ini juga menyaksikan dan berkongsi rasa. Setiap malam Nita akan mendengar mereka melantunkan bicara rindu yang sama.” kata Nita. Dia mengangkat punggungnya daripada lantai yang beralaskan cadar nipis. Sebelah tangannya memegang Anggun erat.

Ferhad turut bangun dan langkah kakinya dihayun menuju ke arah radio lama di sudut kamar. Dia memasukkan sebuah kaset lagu dan suara Broery Marantika mengisi ruang di antara dinding-dinding yang memeluk mereka.

 

Ketika pertama ku jumpa denganmu

                                    bukankah pernah ku tanyakan padamu kasih

                                    takkan kecewakah kau pada diriku

                                    takkan menyesalkah kau hidup denganku nanti

                 

                 

 

 

                  Tanpa berkata apa-apa, Ferhad merangkul pinggang Nita bersama Anggun digendongan. Bagaikan satu, langkah mereka sehaluan mengejar rentak lagu. “Sepertinya hujan menyemburui kita Nita.” kata Ferhad. Nita memandang suaminya bingung. “Tapi Ferhad, bukankah hujan sudah semakin reda.” balas Nita. Ferhad kembali berkata, “Cemburu tanda sayang, bukan?” Nita tersenyum. “Adakala Ferhad sangat susah untuk Nita fahami. Tapi, senda seperti inilah yang akan Nita bawa tidur bersama di malam-malam dingin tanpa Ferhad disisi.” bisik Nita halus di telinga Ferhad.

 

Memang kau bukan yang pertama bagiku

                                    pernah satu hati mengisi hidupku dulu

                                    dan kini semua kau katakan padaku huuu

                                    jangan ada dusta di antara kita kasih

 

Ferhad mencium ubun-ubun Nita lama. Lalu dia mengucup kedua belah pipi Anggun. “Ferhad takut untuk menabur janji pada Nita. Suatu masa dulu, ada insan pernah melarang. Katanya berjanji itu seperti menelan paku.”

Nita mengelus lembut pipi Ferhad. “Ferhad tidak perlu berjanji apa-apa. Nita akan setia menunggu selama dua purnama sehingga Ferhad kembali.”

“Dua purnama pun belum tentu Ferhad pulang, sayang.”

“Nita hargai kejujuran Ferhad. Tapi janganlah Ferhad bimbang kerana dua purnama itu letaknya pada Anggun. Melihatnya tumbuh, aku pasti segala penantianku nanti akan berhujung bahagia. Sepertimana Ferhad meletakkan bahagia itu padanya.”

 

Semua terserah padamu aku begini adanya

                                    ku hormati keputusanmu apapun yang akan kau katakan (kau katakan)

                                    sebelum terlanjur kita jauh melangkah, kau katakan saja

                                    Dan katakan padaku

                                    jangan ada dusta di antara kita

 

Suara Broery dan Dewi Yull tidak kedengaran lagi selepas itu. Langkah kaki mereka turut terhenti. Begitu juga, sentuhan Nita dan Ferhad masih tidak lepas daripada satu sama lain. Hanya suara angin yang mengambil alih ruang di antara mereka dan mungkin juga kematian. Ternyata dinding yang berbicara itu wujud. Mereka seakan-akan mendengar suara asing mengadu tentang beratnya perpisahan dan beban rindu di sebalik kamar itu.

Dahi bertemu dahi, Nita dapat melihat melalui pandangan kaburnya, ada segunung sesalan di dalam mata Ferhad. Dia juga melihat satu kebenaran yang sedang lari menyembunyikan diri. Simpan Nita. Kau tak perlu tahu. Bisik hatinya. “Bila Ferhad akan pergi?” tanya Nita.

“Lepas subuh Ferhad akan berangkat.”

Nita memeluk Anggun semakin erat dan dekat dengannya. “Ferhad…” seru Nita perlahan. Air matanya kembali bertakung.

“Ya sayang…”

“Ferhad. Nita akan merindui nama itu.”

“Nita dan Anggun. Ferhad juga akan merindui dua nama itu.” Ferhad menghadiahkan sebuah senyuman paling manis untuk isterinya. “Ferhad akan pastikan ada surat-surat yang diutus buat Nita.”

Air mata Ferhad tumpah jua.

“Jangan kejutkan Nita jika Ferhad hendak pergi. Ketika pagi datang, tarian ini bakal menjadi mimpi indah tentangmu.”

 


 

6.30 am

Buat Nita,

Langkah kakiku saat ini terasa begitu berat kerana hatiku penuh dengan kau. Cinta dan rinduku ini aku timbang pada awan-awan di langit. Dan seperti hujan yang jatuh pada tanah, aku turut jatuh lagi dan lagi padamu. Usahlah kau takut akan cerah dan gelap. Aku yakin suatu saat mentari dan bulan akan bertemu.

Buat sementara, aku titipkan kau dan Anggun pada Tuhan. Doa itu wujudnya seperti jambatan gantung yang kukuh. Aku berharap doa dan ingatanku ini dapat menyelimutkan kehangatan pada tubuh-tubuh yang kucintai.

Mengertilah sayang, tugasku ini terpaksa aku sorok simpankan di bawah lidah yang kelu. Biarlah rahsia. Iramanya tidak asing lagi seperti lagu kegemaranmu.

Nita, kau bukanlah bunga yang kupetik dan kubiar layu. Kau adalah sumpahan abadi yang mengunci hati.

 

Aku yang selalu merindu,

Ferhad

 


 

2019: 3.04 pm

Gadis berkurung kuning terjun ke dalam sungai yang dalam. Membasahkan seluruh tubuh dari hujung rambut ke hujung kaki. Lalu dia memanjat batu berkembar dan bersidai di bawah matahari terik, sebelum sinaran terang itu bertukar gelap dan semakin gelap. Wajahnya mendongak melihat sebuah pertemuan. Matanya bersinar seperti mentari yang terbit di waktu pagi.

Tiba-tiba gadis itu mendengar derap kaki yang berhati-hati mengorak langkah di belakangnya. Satu suara asing menyapa, “Nak. Nama kamu siapa?”

Gadis itu menoleh pada insan yang bertanya. Dia tersenyum saat mengenali seraut wajah itu.

“Nama saya Anggun.”

 

 

seperti paku

April 14, 2019 in Poetry/Puisi

1//

aku tidak pernah berjanji tapi satu,

satu dekad yang lalu di atas puncak tak bernama tapi dua,

dua nama – kau dan aku terukir tak bertanda hanya mungkin,

puitis suaramu mengalunkan pujangga khalil gibran,

disiulkan burung-burung yang malu,

bersaksikan para hidup,

katamu,

berjanji itu seperti menelan paku,

kataku,

hatiku sudah terlanjur berjanji pada Tuhan,

lalu kau menangis untukku,

katamu lagi berturut tiga,

kau telah menelan paku. kau telah menelan paku. kau telah menelan paku.

kasih maafkan aku,

perkataanku habis melafaz janji,

benar katamu,

aku telah menelan paku,

tapi adakah kau tahu,

janjiku masih aku pegang.

2//

masihkah kau ingat,

pada telefon usang di puncak,

kataku dulu,

setiap hujan turun akan ku hubungi rumahmu,

satu dekad lalu itu juga janjiku,

janji yang sama yang aku pegang,

sekarang hanya ingatan yang bertanda dan percayalah,

hujan juga mengingati nombormu,

maka ketika hujan jatuh,

angkat lah panggilan darinya,

kerana paku yang ku telan tergantung di langit.

Rainbow connection

January 27, 2019 in Short Story/Cerpen

Dinding bilik Naail berlatarkan warna biru langit. Dia yang pilih sebab ibu bagi. Teringat sewaktu Naail berusia satu tahun, menangis dalam dukungan ibu setiap malam. Dia pula hanya mampu melihat ibu dan ayah tidur selang malam, berganti macam pas baton. Oh ya. Dulu bilik itu warna kelabu. Dia tak suka warna kelabu.

Satu malam, dia datang dekat ibu yang tengah gendong Naail dan kata, “Kak Chik rasa bilik ni scares him. That’s why Naail selalu nangis. Apa kata kita cat color lain.” Waktu itu dia hanya mengarut dan memberi alasan kepada ibu sebab memang dia tak suka warna kelabu. Tapi ibu, “You think so too? Esok kita pergi kedai beli cat untuk bilik Naail. Kak Chik suka warna apa?” Dan esok mereka balik dari kedai Nipon dengan 2 tin cat Smooth Sailing.

Malam-malam seterusnya ibu dengan ayah akan cium pipi dia sebelum masuk tidur tanda terima kasih. Siapa sangka Naail langsung tak meragam dah bila biliknya bertukar warna. ‘Kisses and hugs are expressions of love, thank you and goodbye’. Kata-kata itulah yang dia akan baca setiap kali masuk ke dalam bilik. Ayah yang tulis dengan acrylic paint kuning atas canvas putih yang terletak di hujung sudut dinding bilik tidurnya.

Nadeera meletakkan kembali ingatannya di sebuah temple bayangan macam yang Doktor Ayana ajar. Method of loci. Bukan untuk kita buangkan kenangan tapi simpan. And you’re always welcomed to come back. Dengan itu, dia memutuskan untuk meletakkan semua ingatannya di dalam sebuah almari. Almari yang akan membawa dia ke dunia magis seperti Narnia. Kerana seperti itu dan seperti itulah dia akan kembali.

Jam di dinding dah menunjukkan pukul 10 malam. Nadeera kembali menarik comforter Spiderman menyelimuti badan Naail.

“Dah, you have to sleep now okay?

“Kak Chik.”

“Yes?” Nadeera mengusap lembut kepala Naail.

“Can you sing ‘the song’?”

Nadeera terdiam seketika sebelum tersenyum. “Of course, love.”

Naail turut tersenyum dan jelas kelihatan lesung pipit di pipi kirinya yang dalam. Perlahan-lahan matanya tertutup.

Nadeera menarik nafas panjang dan turut memejamkan matanya. Cuba mengingati bait-bait lagu yang dimaksudkan Naail.

Why are there so many?

Songs about rainbows

And what’s on the other side

Rainbows are visions

They’re only illusions

And rainbows have nothing to hide

So, we’ve been told, and some chose to believe it

But I know they’re wrong; wait and see

Someday we’ll find it

The Rainbow Connection

The lovers, the dreamers and me

The Muppet?” satu suara berbisik dibelakang membuatkan nyanyiannya terhenti.

Mengenali suara yang bertanya, Nadeera tidak berpaling mahupun menyahut. Dia terlalu leka merenung wajah Naail yang sedang lena dibuai mimpi. Itulah lagu kegemaran dia, Naail dan ayah. Lagu yang selalunya diiringi oleh petikan gitar. Ibu selalu cakap rumah kami adalah the Shire, syurga dunia baginya. Naailthe king, Nadeera the ring bearer, dan ayah the witch. “Ibu?” tanya Naail lepas tu. “Ibu jadi storyteller je.”

Ergo, ibu mengambil keputusan untuk menjadi seorang penulis buku kanak-kanak. Dalam satu interview, ibu kata, “My family has given me endless support and their love is an ocean drop of magic that never dry. ” Dongeng-dongeng ibu yang ‘perfectly adequate’ bak kata Abang Ilham, adalah bedtime stories kegemaran Naail dan dia. Probably for the rest of their lives.

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top