ditengah mereka

// aimer – anata ni deawanakereba

Saat ini, dalam diriku menebal rasa ingin memberontak teriak pada sekujur tubuh kaku di depanku. Aku yang teringat pada masa-masa belum lagi. Belum bertemu. Belum berjabat. Belum terlepas. Seperti layang-layang yang ingin lari dari tuannya, aku ingin melepaskan diri dari tali tambat kehidupan. Dan seperti gelap yang mematikan deriaku, aku ingin menghidupkan kau. 

Because right now, they are here among us.

Setangkai white hyacinth aku letakkan di atas meja sisi katil seperti selalu. Tirai langsir aku buka untuk membenarkan cahaya masuk. Namun cahaya matahari terik yang menyimbah wajah Arman masih tidak mampu membangunkannya. Aku duduk di samping katil Arman dan mengeluarkan Yasin kecil yang selalu aku bawa. Membacakan untuknya kalimat-kalimat Tuhan. Berdoa agar tubuh itu boleh kembali menggeliat meluruskan sendinya sendiri. 

Selesai membaca Yasin, aku melihat dada Arman yang berombak tenang. Caranya menyambut kedatanganku. Aku menyamai detak pernafasannya. Mencuba untuk berada di frekuensi yang sama. Dan kalau boleh di alam yang sama. Selama dua tahun ini, aku tak pernah mampu mengajaknya berbual. Sebab aku tahu aku akan kesal dan marah dengan kebisuannya. Sebelum pergi, aku menuliskan sepucuk surat tak beralamat di atas beberapa helai tisu dan menyelitkannya di bawah bantal Arman.

Hey there sleeping beauty,

I am no prince but I have come to break the curse.

Give me a little taste of death. 

And I shall graduate from this feeling.

So I can go back to be moderately in love with my world without you.

Oh seasoned heart, 

Forsaken me when I’m selfless. 

As my presence is getting colder.

To which it has frozen my steps.

I vow —

good girl stays at home kindaaa
Posts created 9

Leave a Reply

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top